Kacamata Minus dan Plus kota Jakarta


Jakarta dari dulu sudah menjadi kota yang banyak menarik para pencaker alias pencari kerja, mereka berasumsi bahwa di Jakarta itu adalah tempat yang sempurna, ada banyak tempat wisata, tempat belanja, tempat para artis beken tinggal, tempat syutingnya para artis, hingga kehidupan sehari-hari yang lo-lo gwe-gwe, haha manjiw deh alias mantap jiwa kalo kata anak muda sekarang. Disamping itu ada minusnya alias ada hal negatif nya dari kota Jakarta. Kacamata minus yang selama ini mereka pakai untuk melihat kota Jakarta dari beberapa sudut pandang. Namun, gak semua yang kalian lihat pake kacamata minus itu benar guys. Oke, daripada kalian penasaran aku akan gambarin kota Jakarta lewat kacamata plus, sebagai seorang peneliti di Jakarta, hihihi. Simak terus ceritanya guys, Ok! Area you ready?

Kacamata minus dan plus dari kota Jakarta:

  1. Jakarta itu banyak penjahat, pencopet, atau jambret, Hati-hati kalau baru dateng di Jakarta. Haha,, aku rasa paradigma ini gak se menstrim di kawasan dengan suhu 0°c, hihi… Paradigma ini tidak 100% benar, nyatanya selama aku proses penelitian disini aku selalu mendapatkan banyak pertolongan dari orang-orang baru yang bahkan belum aku kenal sebelumnya, dan bahkan aku punya teman baru yang sampai saat ini masih akrab looh.
  2. Kehidupan yang individual, alias lo-lo gwe-gwe. Hihihi, ini juga gak 100% benar, seperti yang sudah ku bagi sebelum nya ya orang disini pada care sama orang lain yang butuh bantuan. Apalagi ada tetangga sakit, atau meninggal mereka langsung gercep alias gerak cepat guy’s. Jadi lo-lo gwe-gwe nya itu untuk urusan yang mereka tidak tertarik atau bukan passions nya, contoh seorang pengguna atau pengedar narkoba di lingkungan X, tetanga-tetangga di lingkungan X tidak mau ikut campur biar itu menjadi urusan pribadi dan mereka tidak mau terlalu banyak atau bahkan tidak mengingatkan, karena itu bukan wewenangnya.
  3. Jakarta itu panas gersang, weits… Panas di Lampung tepatnya di tanah kelahiran ku di Kotabumi Utara lebih panas dari di Jakarta. Di Jakarta banyak pohon kok, jadi gak gersang, dan masih banyak taman kotanya, apalagi setelah pak Anies Baswedan menanam bunga Bugenfil yang jumlahnya ribuan makin asri deh kota Jakarta.
  4. Orang Jakarta gak ramah, ahaha… pelayan publik di Jakarta kalau gak ramah gak di pake guy’s, selama proses pengurusan surat izin sampe penelitian aku di sambut hangat oleh warga Jakarta, baik dari aparatur negara hingga rakyat biasa. Jadi paradigma ini juga gak bener ya, hihihi.
  5. Di Jakarta macet parah, hihihi ya si, tapi ini juga gak berlaku untuk beberapa wilayah yang menerapkan sistem ganjil genap ya. Dan daerah-daerah yang pasti macet di jam pulang pergi Kantor itu diantara Jl. Alternatif Cibubur untuk Jakarta Timur, di Cengkareng Jakarta Barat, Jl. KH. Abdullah Syafei di Jakarta Selatan, kalau di Jakarta Pusat jarang sekali ada kemacetan kecuali deket pasar Tanah Abang, hihihi.
  6. Di Jakarta serba mahal, cukup menguras dompet. Hihihi,,, masih mahal biaya hidup di Papua daripada di Jakarta guy’s, pasalnya harga indomie di Jakarta antara Rp. 2500,- hingga Rp. 3000,- sementara di Papua kisaran Rp. 4500 hingga Rp. 5000,- hihi. Sementara untuk biaya kost masih terbilang wajar tidak jauh berbeda dari Kota-kota besar lainnya. Untuk transportasi umum juga terbilang murah, apalagi kalau naik busway cukup bayar uang elektronik sebesar Rp. 2000,- hingga Rp. 3500,- kamu sudah bisa keliling Jakarta. Apa masih kemahalan? Ya udah nih aku kasih tau yang gratisan, demenan nya anak kosan yang gratisan, Hihihi. Yang gratisan juga ada guy’s, Yups bus tayo alias bus tingkat alias bus pariwisata yang siap membawamu keliling di tempat-tempat wisata, taman, tempat olahraga, hingga mall secara cuma-cuma, wah kece badai ya, hehe. Tapi selama ada Covid-19 bus ini tidak beroperasi guy’s, tujuan nya untuk mencegah penularan virus ini.
  7. Jakarta tempatnya orang kaya, haha sudah berasa hidup di zamannya khalifah Ustman bin Afwan orang-orang sudah tidak ada yang pantas menerima zakat. Eits… Sorry guy’s, masa kejayaan kekhalifahan Ustman belum pernah aku dengar lagi setelah ia wafat, alias disetiap penjuru pasti ada yang kaya dan miskin. Meskipun di Jakarta Selatan terkenal dengan lingkungan orang tajir melintir, tapi disana juga ada kalangan ekonomi menengah kebawah.
  8. Jakarta tempat nya orang biadab, wow serem kali lah. Banyak norma-norma adat-budaya yang dipengaruhi oleh agama Islam di Jakarta yang masih terjaga hingga saat ini, so adab masih ada ya guy’s. Jakarta sama halnya di beberapa daerah di Indonesia yang memiliki keunikan dan kekhasan adat-istiadat yang membentuk karakter suatu peradaban.
  9. Jakarta tempat sampah publik alias banyak sampah dimana-mana. Hehe, di Bandar gebang suatu wilayah di Bekasi merupakan TPA (tempat Pembuangan Akhir) sampah. Di Jakarta bersih karena jasa Tim Orange yang membantu masyarakat membersihkan lingkungan kota Jakarta. Kalau Jakarta bukan TPA dan lingkungan selalu dibersihkan, lalu bagimana menurut mu tentang paradigma ini?
  10. Di Jakarta tempat orang beken, banyak artis, banyak orang kece, cantik dan ganteng-ganteng serigala, ahaha malah promoin film jadul (jaman dulu). Cantik dan ganteng itu relatif, tergantung kacamata yang dipakai untuk melihat nya. Namun, pada hakikatnya Allah SWT itu menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya [QS: 95 (At-Tin):4].

Oke, cukup sekian pembahasan mengenai kacamata minus dan plus kota Jakarta. Nah, setelah baca artikel ini apakah kamu akan bertahan dengan kacamata mu atau ingin berganti kacamata? Tulis komentar nya di bawah ya

Terimakasih telah membaca dan memberikan komentar terbaik nya. 🙏

Diterbitkan oleh Dia Atin

Berbagai ilmu itu indah & mendatangkan berkah.

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai