Hi para pencari ilmu!
Berbagiilmu akan membagikan suatu pengalaman yang bisa dibilang magic. Bagaimana tidak kisah ini benar-benar seperti di dunia dongeng, ehmb… kedengeran nya menarik sekali ya. Oke, daripada penasaran, yuk kita mulai aja ceritanya.
Berawal dari sebuah mimpi, seorang putri dari petani miskin yang bernama Ani. Ia bermimpi ingin menjadi seorang cendikiawan. Karena waktu itu sistem patriarki masih kental ditambah kehidupan yang serba kekurangan, sehingga sangat mustahil bagi Ani bisa menuntut ilmu hingga perguruan tinggi.
Sore itu di belakang rumah geribik beratap jerami, Ani berkata kepada Bapaknya “pak kalau sudah lulus SMA aku mau kuliah, aku mau jadi ilmuan kaya pak Habibi yang sekarang kerja di German, beliau itu hebat bisa kuliah di luar negeri dan nemuin teori”. ” Nduk-nduk, kamu itu bisa lulus SMP aja udah syukur, Bapak mu ini orang susah, terus duit nya siapa yang mau buat bayar sekolah mu? duit buat beli beras aja dapet minjem dari tetangga. Ya mbok kalau mimpi itu jangan ketinggian, nanti kalau jatuh sakit” Sahut sangat Bapak, seketika suasana menjadi hening.
Malam hari, dimana bintang-bintang berkedip bergantian, sementara rembulan bersinar terang, Ani menatap celengan dari bambu yang sudah diisi sejak ia masih duduk di bangku sekolah Dasar, celengan itu harapan masa depan nya, yang sengaja diisi untuk membiayai sekolah nya ketika ia besar.
Pendaftaran murid baru pun tiba, sementara tidak ada seseorang anggota keluarga yang menanyakan “apakah Ani ingin melanjutkan ke SMA / SMK? Mau sekolah dimana?” bahkan Ibu, kakak dan Adiknya pergi keluar kota dan menginap beberapa hari untuk merayakan pesta pernikahan sepupunya. Tinggalah Ani bersama Bapak nya.
Pagi itu Ani sudah mandi dan mengenakan seragam sekolah, ia berencana untuk mendaftar di sekolah yang sudah diimpikannya sejak lama. “Pak, Ani minta uang buat pendaftaran” ujarnya, lalu si Bapak berkata “Gk ada”. Padahal Ani tahu betul bahwa kebun sawit milik ayahnya baru saja panen, tentu Bapak punya uang, namun Ani tidak mau mempermasalahkan itu. Ia lalu pergi ke kamar dan membongkar celengan nya, kepingan logam dan perak dihitung nya satu persatu, setelah dirasa cukup ia pun mengambil tas ranselnya yang berwarna merah muda. Lalu ia pergi berjalan kaki kerumah Bibi nya yang jarak nya 1,2km untuk meminjam sepedah, agar ia bisa pergi ke sekolah idaman nya yang jarak nya 7,1 km dari rumahnya itu. Jika berangkat dari rumah Bibi berarti menjadi 8,3km. Setelah diperbolehkan, Ani pun mengayuh sepeda unta berwarna hijau tua itu tanpa lelah.
Perjuangan Ani dalam mengejar mimpi belum berhenti, setelah diterima di SMA idaman ia harus membagi waktu antara belajar dan bekerja di pabrik kopra. Usai pulang sekolah ia sibuk melepaskan kopra dari tempurung nya. Meski waktu belajar hanya di sekolah dan saat mengerjakan PR saja,
Namun Ani selalu mendapatk peringkat pertama, menurut nya ia bisa memperoleh peringkat pertama karena ia belajar langsung dari lingkungan nya, “sebagai anak IPS pelajaran yang paling penting adalah di lingkungan sosial di tambah saya senang membaca buku di perpustakaan saat jam istirahat”.
Waktu terus berputar, satu bulan lagi ujian kelulusan tiba, sementara biaya sekolah bertambah banyak. Tak habis akal, Ani membuka les baca tulis dan berhitung dirumah nya pada malam hari untuk anak SD.
Ujian telah berlalu, hari yang ditunggu-tunggu pun tiba, Ani menerima penghargaan sebagai siswa berpartasi bertahan dari sekolah nya. Sujud syukur lantas Ani laksanakan, namun hatinya masih resah memikirkan bagaimana nanti? Bagaimana cara nya ia bisa kuliah?
Pump… suara bel kereta api, Ani duduk di gerbong paling belakang, ia menatap ke jendela sambil membayangkan wajah Bapak nya yang pasti akan sangat ia rindukan, membayangkan Ibu nya menangis saat ia berpamitan, wajah polos sang adik, dan wajah kakak nya yang menatapnya penuh keraguan. Tiba-tiba ia sadar dan membangun maindset nya “aku pasti BISA” Ia ucapan lirih hampir tak terdengar.
Hiruk-pikuk perkotaan menyeruak tatkala ia keluar dari stasiun, ia memandangi kota yang sama sekali belum pernah ia lihat sebelumnya.
Ani terbangun dari tidurnya, ia memandang kamar barunya, kamar kost yang ia sewa. Ia pun segera bergegas menuju kampus idaman. Usai mendaftarkan diri ia pergi menyusuri kota, ia melihat sesuatu yang benar-benar beda dari kampung halaman nya. “Owh kota, berikan aku kemudahan untuk menggapai mimpi ku” ucapnya dalam hati.
Kelas pertama Ani dimulai, ia masih serius mengikuti alur perkenalan mahasiswa baru. Usai itu hatinya kembali gusar, ia harus segera mendapatkan pekerjaan untuk mengembalikan uang kakak iparnya yang ia pinjam untuk modal awal kuliah nya dan untuk memenuhi biaya kuliah serta kebutuhan nya.
Keringat mengucur deras di dahinya, namun cuaca panas tidak menghentikan niat nya untuk mencari pekerjaan. Meskipun mencari kerja di kota lebih sulit dibandingkan di desa namun bayaran nya lebih mahal di kota, ini sesuai dengan kerja kerasnya. Usai membaca kontrak kerja Ani pun menandatangani nya. Ia bekerja sebagai karyawan swasta dengan gaji yang besar, namun ia harus tetap berhemat, karena biaya kuliah tak kalah besarnya.
Akibat dari positif thinking serta kegigihan nya, Ani berhasil memperoleh gelar sarjana di tahun ke 3 dengan predikat cumlaude. Mimpi menjadi cendikiawan semakin terlihat jelas di depan mata. Kini Ani menjadi peneliti di perusahaan ternama, sambil melanjutkan S2 nya.
Pelajaran yang bisa kita ambil dari cerita di atas adalah:
- Setiap orang berhak bermimpi,tak peduli siapa, darimana,mengapa, dan untuk apa.
- Proses mengejar mimpi adalah bagaimana memulai dan terus berproses untuk mewujudkan nya?
- Setiap pemimpi memiliki jalan untuk menuju mimpinya.
- Keyakinan serta positif thinking sangat berpengaruh dalam meraih mimpi.
- Mendengarkan nasihat orang tua itu penting, namun tidak ada salahnya kita berbeda haluan untuk masa depan yang lebih baik.
- Memperoleh gelar bukan berarti Anda berhenti belajar, karena belajar itu sama pentingnya dengan makan.
Saya kira poin ke enam perlu penjabaran yang lebih detail lagi. Oleh karena nya, suatu hari nanti jika masih diberi kesempatan saya akan menuliskan makna makan dan belajar adalah hal yang sama pentingnya. Ok, saya rasa ini cukup, lalu bagaimana pandangan anda? Apa yang Anda pelajari dari kisah di atas? Tulis jawabanmu pada kolom komentar di bawah ya.
Thankyou for your attention and have a nice day.