Andai Anak Ku jadi Bintang


Take 1 action, instruksi dari sang sutradara. Sang bintang film yang sedang naik daun pun mulai berakting. Ini adalah intro untuk cerita tentang dunia perfilman, tapi tidak dengan apa yang ingin aku ceritakan sekarang. Cerita ini adalah tentang seorang anak remaja yang diiginginkan menjadi bintang kelas.

Ngomong-ngomong soal bintang kelas, orang tua mana yang tak menginginkan anaknya menjadi bintang kelas. Namun pada kenyataannya seorang anak tak selalu pandai dalam hal akademis. Banyak dari mereka yang lebih pandai dalam bidang sosial, seni, marketing, dunia editing, otomotif dan lain sebagainya.

Okey, sekarang mari kita mulai cerita nya. Cerita ini datang dari seorang gadis belia bernama Sofiea yang memiliki hobi sekaligus passion, dalam bidang seni atau art dan dalam bidang sosial. Selain pandai dalam bergaul ia sangat lihai ketika menggoreskan kuas di atas kanvas. Ia seorang gadis yang sangat humble, banyak sekali temannya yang ingin belajar melukis dengan nya. Namun sudah banyak pula yang menyerah.

Melukis bukanlah perkara mudah, butuh passion, imagination, dan yaah jiwa seni, inilah yang tidak bisa dipelajari maupun ditiru oleh orang lain. Setiap pelukis memiliki karakternya tersendiri. Namun sangat disayangkan Seniman terutama pelukis bukanlah pekerjaan yang menjanjikan. Inilah alasannya para orang tua tidak mengijinkan anaknya untuk menjadi seorang pelukis.

Sofea sangat berbakat dalam melukis itu adalah prestasi, namun orang tua nya menjadikan nilai akademis yang baik sebagai tolak ukur prestasi. Akibatnya bakat dalam hal melukis yang ia miliki tidak mendapat dukungan, dan kini ia harus terpuruk karena ia tidak mampu menyelesaikan soal-soal kimi maupun fisika dengan baik. Ia terpaksa harus memilih jurusan MIPA karena permintaan dari orang tua nya.

Padahal ia sangat ingin sekali masuk di sekolah seni. Itu lebih ia sukai, namun suka saja tidak cukup. Intervensi dari orang tua, selalu saja membuatnya harus melakukan apa saja yang tidak ia kehendaki. Itu sangat berpengaruh bagi psikologi nya.

Finally ia semakin jauh dari prestasi. Hari demi hari banyak ia habiskan di sanggar Seni Kreasi. Ia lebih nyaman di sana, hingga ia lupa bangku sekolah nya. Orang tua nya belum mengetahui hal ini, namun tahu atau tidak tahu ia tidak peduli lagi. Baginya prestasi tidak akan terlahir dari sebuah intervensi, dan kini ia menentukan jalannya sendiri.


Terimakasih telah membaca hingga usai. Barakallah: semoga Allah SWT memberkahi mu 🙏

Diterbitkan oleh Dia Atin

Berbagai ilmu itu indah & mendatangkan berkah.

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai