Apakah kamu pernah membaca sebuah info atau pemberitahuan di Indonesia yang diawali dengan kata “Budayakan Membaca”? Hemb… Hal ini menunjukan kwalitas budaya membaca orang Indonesia bukan? Kwalitas yang seperti apa ya? Hahaha, silahkan tanyakan kepada diri masing-masing ya. hehe
Membaca adalah suatu aktivitas mengeja huruf demi huruf dan kata demi kata untuk mendapatkan sebuah informasi. Metode membaca bermacam-macam:
Pertama, ada metode baca kilat alias to the point atau biasa disebut dengan membaca cepat. Intinya membaca bagian pokoknya saja bisa, di awal paragraf untuk jenis teks induktif atau ahkir paragraf untuk jenis teks deduktif.
Selanjutnya ada metode membaca ala siput yang penuh kehati-hatian alias membaca keseluruhan teks dengan seksama.
Terakhir ada metode acak, membaca acak alias lompat-lompat. Membaca dengan metode ini umumnya di pandu dengan daftar isi untuk menemukan dimana posisi bacaan yang diinginkan untuk dibaca.
Oke, saya rasa sudah cukup intro nya. Sekarang kita langsung ke point pembahasan ya. Kaitan kemerdekaan Republik Indonesia dengan budaya membaca.
Presiden RI pertama kita sekaligus tokoh kemerdekaan yaitu IR. Soekarno membawa negara ini kedepan pintu kemerdekaan dengan membacakan teks proklamasi. Jadi jelas sekali bahwa dengan membaca presiden pertama kita telah membuat sejarah kemerdekaan bagi negara Indonesia.
Adapun salah satu pesan beliau sang maestro kemerdekaan adalah “jas merah” yang jika di jabarkan menjadi sebuah kalimat akan berbunyi “jangan sekali-kali melupakan sejarah”. Pesan tersebut mengandung makna yang jarang sekali di pahami oleh publik. Pada umumnya mereka hanya fokus pada mengenang sejarah perjuangan para pahlawan Nasional yang telah gugur kurang dari atau lebih dari 75 tahun silam. Hemb… Padahal ada makna lain di balik kalimat tersebut.
Apakah kamu sudah mulai mengerti? Yups… benar sekali. Indonesia merdeka karena ada sang diplomat membacakan teks proklamasi dan ini juga bagian dari sejarah loh. Maka tak heran untuk terus mengenang sejarah, ada baiknya kita membudayakan membaca, layaknya sang maestro kemerdekaan yang membacakan teks proklamasi saat mengukir sejarah kemerdekaan Indonesia.
Jika begitu, jangan abaikan atau tersinggung dengan Announcement “budayakan membaca”. Ini berarti sang pembuat Announcement sedang mengajak kita untuk mengenang sejarah. Dan jika kita ingin terus mensyukuri kemerdekaan yang kita rasakan saat ini, ada baiknya budaya membaca harus tetap ada. Baik di sekolah maupun di rumah, baik saat jam kerja maupun weekend. Baik dalam mobil pribadi maupun dalam kendaraan umum. Baik saat sehat maupun saat sakit. Tapi aku yakin membaca dengan khusyuk bisa menghilangkan rasa sakit itu, apalagi yang dibaca adalah kalamullah (kalamullah adalah perkataan Allah SWT/Tuhan dalam Qitab Suci nya). Hihi.
Hari sudah larut, kini saatnya aku untuk beristirahat. Jika tulisan ini carut marut, ada baiknya anda memberikan ku nasihat.
#Dirgahayu_Indonesia_yang_ke_75, Aku bangga jadi anak Indonesia, garuda di dada ku dan #JAYALAH_INDONESIA_KU.
Terimakasih telah membaca hingga usai, Barakallah: semoga Allah SWT memberkahi mu. 🙏