Aku berjalan, berlari, menempuh jarak yang jauh, disaat mereka dengan tenang duduk di atas kendaraan roda dua maupun roda empat nya untuk mencapai tujuan. Sementara aku, yach… aku yakin, bahwa langkah kaki ku yang setapak demi setapak ini, akan membawa ku sampai juga ke tempat tujuan.
Begitulah ungkapan yang tepat untuk menggambarkan perjuangan ku mencapai sarjana. Disaat mereka bisa duduk dengan tenang di kelas, belajar dan belajar tanpa harus memikirkan semua kebutuhan nya. Karena semua itu telah di penuhi oleh orang tua mereka. Sementara aku, tidak demikian.
Aku berjuang dengan keras, untuk bisa duduk di kelas dengan nyaman. Aku harus berjuang membanting otak dan tulang agar semua kebutuhan ku tercukupi dan biaya kuliah ku terpenuhi. Itu semua karena cita-cita. Cita-cita ku untuk menjadi sarjana.
Sebelum nya aku pernah membaca tentang perjuangan seorang wanita yang ingin menjadi sarjana. Ia harus kuliah sambil bekerja. Tak ada beasiswa, tak ada uang saku dari orang tua dan biaya kuliah pun ia sendiri yang harus menanggung nya. Haha,, semua hal itu terjadi dengan ku. Aku seperti menjadi tokoh utama dalam cerita itu.
Eits… tapi ini bukan sekedar cerita fiksi belakang. Karena aku benar-benar mengalaminya. Pahit memang, berat dan tidaklah mudah. Tapi, yach… Aku berhasil melewati itu semua. Dan kau benar sekali, aku sekarang telah menjadi sarjana. Bangga dan senang sekali rasanya.

Ehehehe, aku seennang sekali jika melihat foto ini. Foto diriku yang mengenakan baju toga. Tapi, kesenangan ku tidaklah berlangsung lama. Apakah kau tahu kenapa? Karena cita-cita ku yang sebenarnya masih di angan-angan. Dan saat ini aku masih memperjuangkan nya.
Yang ada di benak ku saat ini, semua tentang cita-cita, yang rasanya tidak akan pernah ada habisnya. Dan kisah perjuangan ku dalam meraih cita-cita kali ini justru lebih berat dari sebelumnya. Memang aku belum lama memulai, tapi berat bebannya sudah mulai terasa amat sangat. Mungkin menurutmu ini terkesan berlebihan, tapi cobalah berfikir “apakah ada perjuangan dalam mencapai cita-cita yang semudah membalikkan telapak tangan?
Sekarang aku ingin memberikan pertanyaan kepada kalian. Jika kalian terlahir dari keluarga sederhana dan nyaris tak memiliki harta sama sekali, apa cita-cita kalian?
Sebagai penutup aku ingin mengatakan kata-kata bijak yang mungkin sudah sering kau dengar, “kita tidak bisa memilih untuk terlahir sebagai anaknya orang miskin atau orang kaya Namun, kita bisa memilih untuk menjadi apa saat kita dewasa dan sampai ajal menjemput kita”.
Salam sukses selalu untuk para pembaca setia berbagiilmu. Semoga ilmu maupun pengalaman yang kami bagikan bisa bermanfaat dan menginspirasi. Barakallah: semoga Allah SWT memberkahi mu.