Menulis adalah suatu sarana untuk mengikat ilmu, ini adalah perspektif nya sahabat dan keponakan Baginda Rasulullah SAW yaitu Ali bin Abi Thalib. Ia pernah berkata bahwa “apabila kamu memiliki ilmu maka ikatlah ia dengan menuliskan nya“.
Okey, sebelum kita lanjut ke perspektif lainnya, ada baiknya jika kita ketahui bersama bahwa:
Baca Juga: Menulis dan Menghasilkan Tulisan yang Ada Great nya
‘pena’ merupakan makhluk yang pertama kali diciptakan oleh Allah SWT,
Sebagimana diriwayatkan dalam sebuah hadits yang berbunyi:
إِنَّ أَوَّلَ مَا خَلَقَ اللَّهُ الْقَلَمَ. فَقَالَ لَهُ: أُكْتُبْ. قَالَ يَا رَبِّ وَمَا أَكْتُبُ؟ قَالَ: أُكْتُبِ الْقَدَرَ وَمَا هُوَ كَائِنٌ إِلَى الْأَبَدِ (رواه أحمد)
“Sesungguhnya makhluk yang pertama kali diciptakan oleh Allah SWT adalah pena. Lalu Allah berkata, “Tulislah”. Maka dia (pena itu) bertanya kepada Allah, “Apa yang harus saya tulis, Ya Rabb (Tuhan)?” Allah menjawab, “Tuliskan semua apa yang telah Aku takdirkan dan apa yang ada sampai akhir zaman.”
(H.R. Ahmad)
Menulis dalam perspektif yang berbeda:
Menulis dalam perspektif Fathu Rohman adalah ungkapan dan imajinasi isi hati seseorang yang dituangkan ke dalam bentuk tulisan.
Sementara menulis buku dalam perspektif Santoso adalah aktivitas merangkai huruf, kata, kalimat, paragraf, dan tulisan.
Menulis dalam sebuah perspektif lainnya adalah:
Baca Juga : Menulis itu Seru: Bagian II
Menulis adalah olahraga otak.
Menulis adalah cara untuk mengumpulkan mahar.
Menulis adalah kegiatan yang menyenangkan.
Menulis adalah sarana untuk menuangkan isi hati.
Menulis adalah kegemaran yang menghasilkan cuan.
Menulis adalah sarana untuk menjadi kaya.
Menulis adalah cara terbaik untuk menuangkan ide-ide.
Menulis adalah cara terbaik untuk memahami ilmu pengetahuan.
Menulis adalah sesuatu yang membawa ku pada titik kesuksesan.
Baca juga: Menulis itu Seru