“Saya lebih senang dihina dari pada di beri pujian. Karena pujian itu melenakan, sedangkan hinaan itu adalah suatu kenikmatan“
Ardiansyah
Aneh, orang terdzolimi (di hina, di caci, di lecehkan, di remehkan bahkan di rendahkan) malah bahagia dan bersyukur. Ini berawal dari rasa insecure nya seorang low vision, yang merasa bahwa dengan sisa penglihatannya yang tak cukup baik maka ia tidak mampu berbuat banyak hal. Beruntung rasa insecure nya kini merambah pada rasa tawadhu, dimana ia menyadari bahwa dirinya hanya seorang hamba Allah SWT yang tak berkuasa atas segala sesuatu tanpa seizin Nya, ia percaya sekali bahwa lahaula Wala quwata ila Billah (tidak ada daya dan upaya kecuali dengan kekuatan Allah yang maha tinggi lagi maha agung).
Dan untuk mencapai rasa syukur itu ia melawati beberapa fase sebagai berikut:
- Tidak marah kepada orang yang mendzolimi nya.
- Diam saat di dzolimi.
- Ikhlas dan tidak membalas perbuatan orang yang mendzolimi nya dengan perlakuan buruk.
- Berbuat baik kepada orang yang mendzolimi.
- Merasakan kenikmatan ketika terdzolimi sehingga ia bersyukur karena nya.
InsyaAllah kisah berikut ini bisa kita jadikan sebagai contoh untuk mengolah rasa dan emosi kita…
Dan inilah sekelumit kisah nya yang dibagikan kepada saya:
Aku dulu pernah di bilangin gini sama karyawan di perusahaan Esia (produk HP milik pak Bakrie) waktu beli HP “mas gimana sih, tanda tangannya kenapa di sini, kan saya tadi suruh tanda tangan disebelah sini!?” Ya terus ku bilang aja”Maaf mbk saya gak tau karena saya gk bisa lihat, kalau saya tahu saya pasti tanda tangan di tempat yang mbk mau. Sebenarnya saya gak mau mbk lahir dengan kondisi seperti ini, tapi saya gak punya pilihan untuk dilahirkan seperti mbk yang sempurna” Mengetahui hal tersebut manager perusahaan tersebut lantas meminta maaf kepada nya dan memberikan potongan harga 50% sebagai permohonan maaf.
Bersambung-