Aku akan mengajakmu kembali ke masa lalu ku, berawal tahun 2008, saat itu aku masih SMP, tahun depan aku udah mau SMA. Aku punya cita-cita untuk menjadi seorang perawat kala itu, makanya aku berfikir kalau aku harus lanjut ke SMA dan mengambil jurusan IPA.
Aku selalu diskusi sama Bapak untuk setiap keputusan penting yang mau ku ambil. Sore itu aku bantu Bapak beres-beres rumah belakang yang belum selesai di renovasi, setelahnya aku bilang sama Bapak tentang cita-cita ku mau jadi perawat. Bapak gak keberatan aku bercita-cita tinggi, hanya saja wajahnya mendadak muram sambil bilang “nduk sekolah perawat itu biayanya gak sedikit, nanti Bapak wes tuo gak bisa biayai kuliah kamu, kalau kamu mau sekolah di SMK aja lulus sekolah bisa langsung kerja” ucap Bapak lirih. Lalu ku bilang ke Bapak kalau besar nanti aku mau kuliah sambil kerja untuk biayain kuliah ku sendiri.
Tahun 2013 Aku lulus dari SMA, sebelum lulus aku yang menjabat sebagai ketua PMR kala itu bergerak bersama seluruh anggota dan tim dari PUSKESMAS dekat lingkungan SMA mengadakan kegiatan penyuluhan DBD sambil membagikan bubuk Abate secara cuma-cuma. Di sela-sela kegiatan aku sempat ngobrol soal dunia Keperawatan bersama salah satu tim dari puskesmas, beliau menasihati ku untuk tidak perlu menjadi perawat aku bisa menjadi lebih bermanfaat dari sekedar menjadi perawat. Dan aku memutuskan untuk kerja, ngumpulin uang buat kuliah agar aku bisa menjadi orang yang lebih bermanfaat. Alhamdulillah sudah banyak uang yang terkumpul di tahun 2014 totalnya mendekati 10 juta (bagiku sangat besar saat itu). Bulan April 2014 ada pembukaan Brigadir POLRI, aku tertarik untuk ikut mendaftar, karena saat itu fokus ku bukan menjadi perawat lagi tapi bagaimana caranya agar aku bisa membanggakan Bapak dan menjadi orang yang bermanfaat. Meski aku gagal kala itu, tapi aku yakin langkah ku untuk menjadi orang yang bermanfaat semakin dekat.
Agustus 2015 dengan modal bismillah aku mendaftar kuliah di Universitas Islam di Kota ku. Saat itu tabungan ku tak banyak bahkan hanya cukup untuk kehidupan sehari-hari. Bermodal bismillah dan yakin bahwa Allah SWT pasti akan menolong hamba-Nya dalam menuntut ilmu, aku resmi menjadi Mahasiswa di Kampus tersebut. Ada beberapa berkas yang perlu ku urus untuk registrasi, salah satunya adalah surat pernyataan dari orang tua, waktu itu aku baru memberi tahu Bapak bahwa aku sudah diterima menjadi Mahasiswa.
Aku bilang sama Bapak, “Pak aku udah ketrima kuliah, ini adalah langkah awalku menepati perkataan ku tempo lalu untuk kuliah dengan uang yang ku hasilkan sendiri, Bapak gak perlu khawatir masalah uang kuliah, percayakan sama anak Bapak” sambil menyodorkan kertas A4 berwarna putih ku berujar lagi “kalau Bapak setuju, Bapak bisa tanda tangan disini”, sambil tersenyum bangga Bapak menandatangani surat itu.
Tanggal 28 Juni 2019 Aku berhasil lulus kuliah, dengan menepati perkataan ku untuk tidak meminta uang kuliah sama Bapak. Saat wisuda Bapak gak bisa hadir, “gak papa” Batinku menenangkan diri sendiri. Setelah usai wisuda aku sempat foto di depan rumah sama Bapak, aku melihat senyum bangga seorang Bapak kepada anak gadis kecilnya yang kini telah tumbuh dewasa.
Setelah aku lulus aku sempat mendapat cerita bahwa orang-orang dilingkungan rumahku salut dan bangga sama Bapak karena ditengah keterbatasan ekonomi yang kami hadapi masih mampu menyekolahkan anaknya hingga ke jenjang S1. Aku senang sekali mendengar kabar itu, aku ingin bilang ke Bapak terimakasih karena selalu mempercayai anak gadis kecilnya dan selalu memberikan kasih sayang yang tidak ku dapatkan di luar rumah. Kini aku rindu rumah, rindu sama Bapak, rindu ke ladang sama Bapak, dan ada banyak lagi kerinduan yang gak mau kesebutkan dihalaman ini.

Satu pendapat untuk “Aku dan Bapak”