Mamaku adalah wanita yang tangguh, dia wanita hebat, wanita yang penuh kasih sayang. Ada banyak sumber cinta di hatinya, ada cahaya di setiap katanya, ada kenyamanan dalam peluknya, ada seribu doa untuk ku dari bibir manisnya. Aku mencintai Ibu ku, lebih dari aku mencintai diriku sendiri.
2016 lalu Mama di vonis dokter mengidap kista di dalam rahimnya dan ukuran diameternya 15 cm, sontak badanku yang saat itu berbalut dengan dress sifon putih bermotif bunga-bunga di bagian bawahnya luluh dan terduduk kelantai rumah sakit yang saat itu kondisinya sangat ramai. Aku seolah merasakan sakit yang teramat sangat, layaknya apa yang saat ini sedang dirasakan oleh Mama. Aku saat itu melupakan bahwa jam 9 harus ke stasiun untuk pergi ke kampus karena ada kelas jam 1 siang.
Aku menelpon Om dan Bibi, memberi kabar terkini tentang Mama. Om bilang aku harus terus memberikan kabar sementara Bibi masih sempat menanyakan kuliah ku. Aku langsung teringat jadwal kuliah siang nanti, lalu berinisiatif menelpon KOSMA untuk meminta izin tidak masuk kuliah siang ini.
Semester 3 ini aku kuliah sambil merawat Mama yang sakit. Dalam waktu seminggu bisa 3 kali aku pulang ke rumah dari Kosan ku yang letaknya tepat di depan Kampus. Aku harus pandai mengatur waktu ku, antara aku, Mama, Kuliah, Bisnis dan waktu ku untuk Allah yang paling utama.
Satu semester berlalu Mama belum juga mau untuk di operasi karena Kakak-kakak Ku tidak setuju, sementara Mama memikirkan biaya nya. Padahal aku sering bilang bahwa “tak perlu memikirkan hal itu, aku masih punya tabungan Mama”. Bagiku kesembuhan Mama yang paling utama, bagaimanapun caranya. Aku sempat sekali mengantarkan Mama pergi ke Psikiater berharap Mama bisa sembuh. Karena selain obat-obatan psikiater juga memberikan dukungan moril yang mampu menguatkan mental Mama dan juga Aku.
Siang hari dibawah pohon yang rindang aku bersama seorang sahabt ku Cici namanya, kita berdua hendak melihat hasil semester 3 di SIAKAD. Mataku sontak terbelalak untuk beberapa saat, lalu ku kedipkan berkali-kali, aku masih tak percaya dengan apa yang ku lihat, aku menyodorkan isi KHS kepada sahabatku, lalu iapun sama terkejutnya dengan ku sambil mengucapkan “Wih Atin hebat kamu, luar biasa A semua nilainya”. Aku masih tak percaya, sampai aku meminta di cubit oleh sahabat ku itu.
Akupun tersadar bahwa nilai ini adalah hadiah dari berbakti kepada Mama yang diberikan oleh Allah SWT. Aku langsung bersyukur dan tetap mawas diri agar tidak terperdaya dengan pencapaian ku dan harus terus belajar untuk mempertahankan prestasi ku. Mama, aku langsung menelpon Mama dan memberitahu hasil semester ku, aku berharap ini bisa membahagiakan hatinya.
Kini aku sudah semester 4, aku sudah terbiasa dengan kesibukan ku dengan rutinitas yang sangat padat, namun Mama tetap prioritas utama ku. Aku menelponnya dan ia memberitahu bahwa ia sudah sembuh, aku lantas terkejut dan tak percaya begitu saja. “Oke Ma besok subuh aku pulang kita ke rumah sakit yah” ujarku sebelum menutup telpon, karena dosen ku sudah memasuki ruang kelas.
Keesokan hari ba’da sholat subuh aku sudah siap untuk berangkat pulang, sesampainya di rumah aku langsung membawa Mama kerumah sakit untuk di USG. Aku dan Bidan yang bertugas saat itu sama-sama memandangi layar dimana dalam rahim ibu tampak di layar tersebut, lalu pandangan kami bertemu hampir menggeleng tapi inilah mu’jizat dari Allah, kista Mama telah luruh tak bersisa. Aku sangat bersyukur dan berterimakasih kepada Allah SWT, dalam relung hatiku berujar “ya Allah, begitu indah cara-Mu memupuk rasa Cinta dan keyakinan-Ku pada-Mu”, aku tersenyum simpul dan memeluk Mama dengan erat.
Baca juga Aku dan Bapak.