Aku masih asyik berlibur di Puncak bersama sahabat ku, Ara, Gita Vina dan Audrey. Kami berencana menginap selama 4 hari di Vila milik Bibi ku, Sonya sang sutradara idola lelaki lajang.
Matahari pagi mengintip lewat ventilasi jendela kamar, akupun terbangun dan menengok ke arah jam dinding oval diatas nakas. Ya, ampun sudah pukul 08:06 pagi aku terperanjat dan membangunkan keempat sahabat ku. Mereka pun terkejut ketika melihat sinar matahari yang baru saja masuk saat ku buka jendela kamar. Ara berteriak frustasi “yah… Kita gagal dong liat sunrise”. Yaah… Sahut dari ketiga sahabat ku yang lainnya.
Sering ponsel muncul dari handphone ku, ku lihat Bibi menelpon ku. “Agh… Pasti Bibi akan memberikan wejangan untuk tidak melakukan ini itu di vilanya” pikir ku. Dengan bermalas-malasan ku usap keatas layar ponsel ku. Terdengar suara isak tangis berasal dari handphone ku, tak lama Bibi menyuruhku untuk segera pulang ke Jakarta, ini perintah Mama katanya. Ntah apa yang terjadi, tanpa berfikir panjang aku langsung mengemasi barang-barang ku ke dalam koper, tingkah ku ini membuat keempat sahabat ku saling pandang-pandangan.
Audrey kemudian bertanya pada ku, ada apa Zahra? Aku harus pulang sekarang, ini perintah mama. Kalian mau ikut pulang atau tetap disini? Jawab ku, sambil bersiap untuk mandi. Usai mandi ternyata keempat sahabat ku telah mengepack barang-barangnya di koper mereka masing-masing. Aku tersenyum kepada mereka.
Sebelum sarapan ku menyuruh Pak Udin untuk menyiapkan mobil, dan kita berangkat ke Jakarta usai sarapan pagi. Selama diperjalanan aku sangat khawatir dengan kondisi Ibu, pasti ini ada yang tidak beres, Mama tak pernah menyuruhku pulang jika aku sedang berlibur di Puncak, ucapku dalam hati. Keempat sahabat ku yang biasanya bawel kini berubah 180ยฐ menjadi sosok pendiam, seolah mereka tahu apa yang terjadi tanpa banyak berkata mereka hanya menenangkan ku sambil sesekali menawarkan minum dan cemilan kepadaku.
Perjalanan dari Bogor ke Jakarta kini terasa lebih lama dari biasanya. Aku memejamkan mataku sambil mendengarkan musik melalui headphone untuk mengusir rasa jenuh. Dan akupun terbangun mendengar suara pak Udin membangunkan ku. Saat aku bangun keempat sahabat ku sudah tak ada di mobil. Melihatku yang memandangi seisi mobil penuh selidik, pak Udin kemudian memberitahu ku bahwa keempat sahabat ku sudah di jemput oleh orang tuanya masing-masing di Jl. Gunung Sahari.
Setelah tiba Mama menyambut ku dengan senyuman, sambil duduk di kursi roda. Aku sontak berlari dan memeluk Mama, Mama kenapa ujarku. Mama gak papa sayang, Mama cuma kecapean. Kok mama pake kursi roda sih, tanya ku lagi. Mama mu itu habis jatuh dari kamar mandi, tulang keringnya ada yang memar kata dokter mama gak boleh jalan dulu sampe memar nya sembuh.
Mama memberiku isyarat untuk berbicara empat mata dengan nya. Aku pun membawa Mama ke kamar nya, mah ayo kita istirahat di kamar ucapku. Setelah tiba di kamar mama menunjukkan foto pria di handphone nya. Mah ini siapa? Ucapku. Ini calon suami mu sayang, ucap Mama dengan mata yang berbinar.
Mah, tapi aku gak kenal siapa dia mah, aku memberikan argimen ku. Tapi Mama kenal dia, dia orang yang baik akhlak dan agamanya, Mama yakin dia bisa membahagiakan kamu. Tolong jangan di tolak permintaan Mama ya nak, dia anak dari cicit almarhum eang Hasyim Muzadi adik dari eang Adnan Muzadi (kakeknya Ayah).
3 bulan kemudian aku menikah dengan mas Hamid Akhbar Muzadi cicit dari eang Hasyim Muzadi. Selama tiga bulan terakhir aku ber taaruf dan memantapkan untuk menikah untuk menyempurnakan ibadah dan mewujudkan keinginan Mama. Andai Papa masih ada, ia pasti senang sekali melihat putri bungsu nya menikah. Saat ini mas Ergha yang menjadi wali nikah ku, ia putra sulung dari Papa dan Mama ku.
Usai resepsi pernikahan aku di boyong mas Hamid ke Bekasi, di rumahnya. Kami tinggal berdua di rumah berukuran 6ร10m. Rumah yang nyaman dengan taman yang asri di belakang rumah. Aku senang sekali menghabiskan waktu menulis di gazebo belakang rumah kami, saat mas Hamid kerja.
Aku hamil saat usia pernikahan ku menginjak 5 bulan. Rasanya aneh sekali saat aku tak lagi menstruasi untuk pertama kali nya, sedikit pusing saat melihat kotoran. Hingga akhirnya mas Hamid tak mengizinkan aku mencuci piring, baju dan mengerjakan pekerjaan rumah lainnya, semua pekerjaan rumah diserahkan kepada asisten rumah tangga yang baru tadi pagi tiba.
Tanpa sepengetahuan ku mas Hamid mencarikan aku asisten rumah tangga dan asisten pribadi untuk ku, dan mobil baru beserta sopirnya. Mas Hamid benar-benar mencintaiku dan tak ingin aku menderita sedikitpun. Ia menyuruhku jalan-jalan jika aku bosan di rumah, tapi harus tetap di dampingi oleh asisten dan sopir pribadi.
Mama benar bahwa mas Hamid bisa membahagiakan ku. Setelah 14 tahun bersama rasa cinta mas Hamid kepada ku tak pernah berubah meski kini kami telah memiliki 2 buah hati. Dan dengan kesibukannya ia selalu memprioritaskan aku dan kedua buah hati kita.
Mas Hamid selalu mengalah dengan ku namun demikian dia tetap menempatkan aku di posisi seorang istri, sehingga aku bisa tahu diri. Dan anak-anak tidak pernah mengeluh jika sering di tinggal kerja keluar kota selama 3 atau 4 hari oleh ayahnya, ini karena pemahaman yang ditanamkan oleh mas Hamid. Mas Hamid selalu memiliki beragam cara untuk membahagiakan istri dan anak nya. Sesekali kami berkunjung ke rumah Mama, seperti saat ini. Saat mas Hamid kerja keluar kota, anak-anak minta liburan di rumah Mama dan ia tidak keberatan untuk mengabulkan permintaan anak-anak nya. Dan Mama kini telah memiliki banyak uban, tapi garis bibir bekas senyumannya membuatnya awet muda.