Sebelum sekolah antara usia 3 hingga 5 tahun aku suka belajar nulis, baca dan berhitung. Suka belajar matematika pelajaran kelas 3 dan 4 SD. Waktu umur 5 tahun saya sudah minta disekolahkan di Sekolah Dasar, dan gak mau masuk Taman Kanak-kanak. Jadi waktu itu cerita nya udah masuk semester awal sekolah, aku belum sekolah karena maunya masuk SD sementara umur nya belum memenuhi persyaratan masuk SD, akhirnya karena gak boleh, jadi setiap pagi aku udah mandi, pake baju yang rapi, diem² aku ngikutin kakak ku yang berangkat sekolah. Dan kebetulan SD nya kan gak jauh, setibanya di Sekolah Dasar, aku ngelongo di depan pintu kelas 2 SD. Aku diem² nyimak pembelajaran yang berlangsung, begitupun hari-hari berikutnya. Rupanya diam-diam aksiku di sekolah itu membuat ibu ku dan kepala sekolah yang kebetulan teman akrab ibu ku memperbolehkan aku bersekolah.
Hari pertama aku sekolah, ku kenakan seragam usang milik kakak ku yang sudah tak dipakai, di pundak ku menggantung tali rafia yang mengikat pada sebuah kantong plastik berisikan satu buah buku tulis, satu buah pensil dan satu buah penghapus. Masih ku ingat betul betapa semangat dan senangnya aku bisa bersekolah didibangku Sekolah Dasar, walau tidak dari awal dan tidak ada peralatan sekolah yang disiapkan, namun peralatan dan seragam sekolah yang bisa dibilang sama sekali tidak layak itu tidak menjadi penghalang bagiku untuk secepatnya bisa sekolah.
Singkat cerita aku udah SMA, di pertengahan semester kelas XI sempat mau putus sekolah karena udah gak ada biaya, kakak udah bilang udah kalau gak mampu buat sekolah jangan dipaksain. Tapi kalau orang tua no comment ya. Tapi kalau aku pribadi si gak mau putus sekolah gitu aja. Waktu aku udah dititik jenuh, biaya sekolah udah nunggak, terus kebetulan aku anak OSIS punya relasi yang baik sama kepala kesiswaan, temen ku sesama OSIS rupanya curhat ke kepala kesiswaan tentang kondisi ku saat itu. Setelah itu, aku dapet bantuan siswa tidak mampu (BSM).
Tapi bantuan itu blm cukup untuk membayar biaya sekolah, akhirnya aku sekolah sambil kerja jadi ART (Asisten Rumah Tangga). Ketika detik-detik mau ujian, biaya sekolah ku masih banyak yang harus dilunasi, dan aku bingung banget waktu itu. Tapi karena semangat ku dalam belajar sudah menggebu-gabu sejak kecil, aku tetep berfikir positif kalau aku pasti bisa ikut ujian. Dan akhirnya ada ayah dari salah satu temen deket ku yang ngelunasin semua tunggakan biaya sekolah ku, sehingga aku bisa ikut ujian dengan tenang.
Setelah ujian usai, saatnya menunggu hasil.
Akhirnya waktu yang ditunggu-tunggu pun tiba, saat semua siswa menerima amplop, aku dan tiga orang teman ku tidak menerima amplop. Dan kamipun disuruh menuju ruang BP, dan beberapa menit kemudian tibalah aku di ruangan itu.
Ruangan itu dipenuhi oleh siswa dan siswi, serta guru BP dan kepala kesiswaan. Saya dan kedua teman saya pun ikut bergabung bersama mereka, kami duduk dengan pikiran yang kacau, dan ada beberapa siswa terlihat sedang menangis dengan suara lirih bahkan hampir tak terdengar. Tak lama kemudian, kepala kesiswaan menyampaikan pidato dan meminta maaf kepada kami karena mereka tidak bisa melakukan banyak hal untuk kelulusan kami, dan seterusnya. Begitupun kepala BP menyampaikan wejangan, dengan nada sedikit tinggi kepada kami, hampir seperti marah. Kemudian amplop dibagikan, namun amplop boleh dibuka ketika sudah ada instruksi.
Cukup lama kami dimarahi, setelah itu instruksi untuk membuka amplop terdengar dari kepala kesiswaan, sontak kamipun membuka secara serentak dan saat itu pula ucapan rasa syukur terucap dari semua siswa-siswi di ruangan tersebut dan kamipun sujud syukur bersama, karena kita lulus 100%. Dan setelah itu kami sadar, ini hanya drama kelulusan tahun 2013, dan untuk pertama kali nya ada drama seperti ini di sekolah kami, tapi itu cukup berkesan.
Setelah itu kami bertiga menuju lapangan upacara, di sana ada teman sekelas XII IPA 1 yang sudah menunggu kami. Namun drama belum selesai, kami bertiga memasang mimik sedih, kemudian ketua kelas kami yang berada di antara kerumunan teman sekelas kami, terdengar mengucapkan kata “yah kita gagal sujud syukur bareng nih, kita juga gagal keliling lapangan basket tiga kali bareng-bareng nih”. Setelah itu kami bertiga menunjukkan isi amplop dan sontak membuat kita tertawa bersama dan merayakan kelulusan kami.
Hari-hari pasca kelulusan membuat kita rindu suasana belajar dikelas, rindu bercanda bersama dan rindu saling bersaing dalam meraih prestasi. Suasana sekarang sangat berbeda, saat itu aku sudah bekerja sebagai ART sebelum lulus pun aku sudah bekerja, meskipun itu bukan pekerjaan yang pernah aku impikan, tapi pekerjaan itu merupakan wujud dari tekat ku dalam mencari uang untuk terus belajar ke jenjang yang lebih tinggi.
Malam itu bulan dan bintang menjadi pusat perhatian ku. Aku begitu mengaggumi keindahan alam malam itu, hingga anggan ku jauh menerawang ke langit. Namun bukan lamunan ABG yang baru putus cinta, ini lamunan anak remaja yang beranjak dewasa, dewasa dengan dibimbing oleh pengalaman.
Setelah ku renungi mimpi,
Rasa syukur kupanjatkan tiada henti
Bagaimana tidak? Ketika aku meyakini dapat meraih mimpi kecil ku, ternyata Tuhan mewujudkan mimpi besar ku.
Saat aku ingin berhenti meraih mimpi, Tuhan hadiahi aku sebuah prestasi,
hingga ku sadar bahwa; ketika kan ku kejar mimpi, Tuhan mendukung ku dengan sepenuh hati, hingga Ia tak mau aku berhenti dalam meraih mimpi.
Lanjutkan membaca “Kecanduan Belajar Sejak Dini”