Finally ia semakin jauh dari prestasi. Hari demi hari banyak ia habiskan di sanggar Seni Kreasi. Ia lebih nyaman di sana, hingga ia lupa bangku sekolah nya. Orang tua nya belum mengetahui hal ini, namun tahu atau tidak tahu ia tidak peduli lagi. Baginya prestasi tidak akan terlahir dari sebuah intervensi, dan kini ia menentukan jalannya sendiri.