
Mendengar suara ibu saat masih dalam kandungan adalah hal yang menyenangkan. Begitu senangnya, tanpa sadar aku sering menendang-nendang perut Ibu. Hingga tiba saatnya aku lahir ke dunia, sejak saat itu hingga usia 2 tahun aku disusui oleh Ibu.
Ketika sudah besar aku tak lagi seperti dulu, saat mendengar suara ibu memanggilku… Rasanya aku ingin menghilang. Akh… malas sekali rasanya, mengerjakan ini-itu suruhan ibu. Aku tak mau di panggil oleh ibu, karena saat memanggilku ia pasti akan menyuruh ku.
Aku tinggal berdua dirumah bersama Ibu. Ayahku sejak lama meninggalkan kami berdua, sejak pertengkaran hebat malam itu. Saat itu aku masih berusia 8 tahun. Sejak saat itu, aku membenci Ibu ku.
Malam itu ibu memanggilku, tapi aku pura-pura sudah tidur. Meski ibu memanggilku berkali-kali dari balik pintu kamar ku, aku tetap tidak menghiraukan nya. Hingga aku tertidur pulas dan terbang ke alam mimpi.
Suasana senja, hari hampir gelap. Ibu melambaikan tangannya memanggilku dari kejauhan, namun aku tak menghiraukan nya. Aku masih asyik dengan gadget baru ku, sambil duduk bersimpuh di bangku taman.
Aku mulai merasa bosan di taman dan hari sudah gelap, aku pun memutuskan untuk masuk ke dalam rumah. Saat pintu terbuka tak ada cahaya sama sekali, aku tidak bisa melihat apa-apa. Akupun memangil Ibuku, ibu-ibu… tapi tak ada jawaban dari nya. Saat ku tekan tombol on pada saklar lampu ruang keluarga, aku tak mendapati ibuku disana. Pencarian ku berlanjut ke kamar, ruang tamu, ruang makan dan berakhir di dapur. Disana Ibu sudah tergeletak di lantai dan tak bergerak.
Hati ku kacau, dan aku mulai frustasi saat ku periksa badan nya dingin sekali, nadi ibuku sudah tidak berdetak lagi. Aku langsung melakukan tindakan pertolongan pertama, berupa resusitasi jantung paru (RJP), atau biasa disebut dengan cardiopulmonary resuscitation (CPR) untuk mengejutkan kembali jantungnya. Ventrikel fibrilasi adalah penyakit yang diderita Ibu ku sejak beberapa tahun terakhir, penyakit ini sering mengakibatkan sudden cardiac arrest atau jantung berhenti berdetak secara mendadak.
Aku menangis ternyata usahaku tak sia-sia, jantung Ibu mulai berdetak dan nadinya mulai terasa. Aku langsung membawa Ibu ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan lebih lanjut. Sampai dirumah sakit dokter mengelus rambutku yang ikal, sambil berujar “kerja bagus Arkha kau bekerja di waktu yang tepat”. Dokter Ronald adalah dokter yang biasa menangani Ibu, dia adalah dokter yang memiliki postur tubuh yang tinggi.
Aku duduk di bangku panjang disebelah ranjang Ibu ku. Ku amati dalam-dalam wajahnya, wajah yang selalu berusaha tersenyum untuk membuatku tidak mengkhawatirkan nya. Aku sontak teringat masa kecilku dulu pada 21 tahun silam, saat aku masih dibangku taman kanak-kanak Ibu selalu melayani ku bak pangeran. Ia selalu khawatir saat aku menangis dan ia sangat bahagia saat aku tersenyum. Dulu aku pernah menangis saat tangan Ibu berdarah darah aku pikir Ibu ku terluka, ternyata ia hanya menolong tetangga yang menjadi korban tabrak lari.
Namun ini adalah pertama kali nya setelah puluhan tahun lalu aku merasakan kembali duka itu, saat melihat Ibu terbaring tak berdaya seperti ini. Akupun mulai menyesali perbuatan ku yang kerap mengabaikan Ibu ku.
Ibu aku tak ingin kau pergi secepat ini, ibu kau harus sembuh bu. Berjuanglah Bu demi Arkha, Arkha masih butuh Ibu. Arkha janji, akan membantu Ibu. Jika Ibu menyuruhku, meskipun itu pekerjaan yang biasanya dilakukan seorang wanita sekalipun, pasti akan aku turuti. Ibu, ayolah bangun, ucapku lirih dalam hati.
Belum habis duka ku, aku pun kembali teringat dengan sikap cuek ku terhadap Ibu. Sikap yang seolah-olah tak butuh kehadirannya. Hanya karena aku enggan disuruh membantu nya mengerjakan pekerjaan rumah. Aku sudah ratusan kali mengabaikan nya, namun Ibu tetap tak berubah masih saja memperlakukan ku bak pangeran. Tapi aku sering mengabaikan perlakuan itu, aku sering melewatkan makan pagi dan malam yang sudah Ibu siapkan dengan susah payah.
Meski kuliah arsitek ku yang sudah menginjak semester 9 tapi Ibu tidak pernah menuntutku untuk segera menyelesaikannya. Ibu tak pernah memarahiku apalagi membentak ku, Ibu hanya ingin sesekali aku membantunya menyiapkan sarapan agar ia tidak terlambat pergi ke kantor. Tapi apa balasan ku untuk nya, hanya membuatnya semakin kecewa hingga ia harus mengidap penyakit yang siap merenggut nyawanya kapan saja.
Hari-hari yang belum pernah ku bayangkan kini menjadi rutinitas ku, ya mengerjakan pekerjaan rumah. Sejak 4 bulan yang lalu saat Ibu ku sudah sembuh. Dan apakah kamu tahu bahwa esok adalah hari wisuda ku, dan ibu berjanji akan datang.
Terimakasih telah membaca hingga usai. Barakallah: semoga Allah memberkahi mu🙏